KEBUDAYAAN UNTUK MEMBANGUN MASYARAKAT SEJAHTERA
Manusia
dalam hidupnya tidak bisa lepas dari yang namanya kebudayaan, karena manusia
adalah pencipta dan pengguna dari kebudayaan itu sendiri. Manusia hidup karena
adanya kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang
ketika manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan malah merusaknya. Dengan
demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena
dalam kehidupan manusia tak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil
kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan, bahkan
kadangkala disadari atau tidak manusia itu sendiri yang merusak kebudayaan.
Kebudayaan
berasal dari kata budaya, sedangkan budaya adalah bentuk jamak dari kata
budidaya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal
dari bahasa Sansekerta buddayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti
budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kata budaya berasal dari kata culture,
dalam bahasa Belanda diistilahkan dengan kata cultuur, dalam bahasa Latin
berasal dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan,
mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti
culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan
mengubah alam.
Koentjaraningrat
(1975) mengemukakan bahwa kebudayaan itu dibagi atau digolongkan dalam tiga
wujud, yaitu :
a. Wujud
sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan
peraturan. Wujud tersebut menunjukkan wujud ide dari kebudayaan, bersifat
abstrak, tak dapat diraba, digenggam, ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam
pikiran masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu berada. Kebudayaan
ideal ini disebut pula tata kelakuan, hal ini menunjukkan bahwa budaya ideal
mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan,
kelakuan, dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun.
Kebudayaan ideal ini dapat disebut adat atau adat istiadat, yang sekarang
banyak disimpan dalam arsip, tape recorder, komputer. Kesimpulannya, budaya
ideal ini adalah merupakan perwujudan dan kebudayaan yang bersifat abstrak.
b. Wujud
kebudayaannya sebagai suatu komplek aktivitas serta tindakan berpola dari
manusia dalam masyarakat. Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena
rnenyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini
bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan karena dalam sistem sosial ini
terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan. Kesimpulannya,
sistem sosial ini merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret, dalam
bentuk perilaku dan bahasa.
c. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda
hasil karya manusia. Wujud yang terakhir ini disebut pula kebudayaan fisik.
Dimana wujud budaya ini hampir seluruhnya merupakan hasil fisik (aktivitas
perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat). Sifatnya paling konkret
dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto yang
berujud besar ataupun kecil. Contohnya : Candi Borobudur (besar), baju, dan
jarum jahit (kecil), teknik bangunan (misalnya cara pembuatan tembok dengan
pondasi rumah yang berbeda bergantung pada kondisi). Kesimpulannya, kebudayaan
fisik ini merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret, dalam bentuk
materi/artefak.
Lantas bagaimana kebudayaan dapat membangun
masyarakat untuk sejahtera ?
Budaya
berfungsi membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup
manusia terdiri atas kebutuhan biologis, kebutuhan sosial, dan kebutuhan
psikologis. Manusia mempunyai berbagai kebutuhan agar dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan. Dalam upaya memenuhi kebutuhan biologis manusia yang satu
harus memperhatikan kepentingan manusia yang lain (norma, salah satu wujud dari
kebudayaan). Untuk memudahkan tercapainya kebutuhan biologis, manusia
memerlukan kebutuhan sosial. Kebutuhan sosial antara lain kegiatan bersama,
berkomunikasi dengan sesama, keteraturan sosial dan kontrol sosial, dan
pendidikan. Begitu juga dengan pemenuhan kebutuhan psikologis yang meliputi
kasih sayang, kepuasan altruistic, kehormatan, dan kepuasan ego juga diperlukan
adanya interaksi sosial yang mana dalam hal tersebut selalu ada unsur
kebudayaan di dalamnya.
Sebagaimana
telah disebutkan, bahwa sebagai makhluk individu manusia merupakan satu
kesatuan biologis yang perlu hidup berkawan. Perkawanan tersebut tidak lain
adalah untuk menciptakan kebudayaan yang menghasilkan alat-alat material juga
immaterial yang diperlukan dalam kehidupannya. Yang pada akhirnya kebudayaan
tersebut merupakan alat-alat yang digunakan oleh manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya agar dapat menjadi masyarakat yang sejahtera.
Daftar Pustaka :
Elly. 2008.
Manusia dan Kebudayaan (Online). Dari http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196604251992032-ELLY_MALIHAH/Bahan_Kuliah_PLSBT%2C_Elly_Malihah/Manusia_%26_Kebudayaan%2C.pdf.
Diakses pada 23 Oktober 2020.
Koentjaraningrat (Ed). 1975. Manusia dan Kebudayaan
di Indonesia. Jakarta : Jambatan.
Handout Manusia dan Kebudayaan. Dari http://besmart.uny.ac.id/v2/mod/resource/view.php?id=493874. Diakses pada 23 Oktober 2020.
Komentar
Posting Komentar